Sekapur Sirih
Secara historis, beberapa bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) memiliki singgungan budaya, khsususnya bahasa. Pada perkembangannya Bahasa Indonesia mulai dikenal oleh masyarakat ASEAN (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand Selatan, dan Timor Leste), hal tersebut membuka peluang untuk pemajuan Bahasa Indonesia dan politik kebudayaan, khususnya melalu karya sastra dan kemitraan antarkomunitas sastra di ASEAN. Karya sastra sebagai ekspresi kebahasaan sering terkotak oleh batas negara, maka diperlukan kerja kolaboratif untuk memendekkan jarak antarkomunitas sastra. Kegiatan sastra ASEAN umumnya bersifat festival atau diskusi, tetapi jarang menghasilkan karya bersama yang terdokumentasi secara permanen (seperti antologi kolaboratif). Kekayaan Bahasa Indonesia dan keragaman dialek dan tradisi puisi lokal (pantun, syair, sajak kontemporer) sering diabaikan dalam proyek sastra “serumpun” yang cenderung tersentralisasi. Selain itu, karya bersama sering berakhir sebagai arsip tanpa strategi distribusi dan minim apresiasi yang dapat dijangkau oleh publik ASEAN secara luas.
Berdasarkan uraian tersebut, komunitas Sastra Timur Jawa (STJ) secara tidak langsung memiliki tanggung jawab moral untuk berperan dan berupaya hadir menjadi bagian baik secara estetis maupun praktis dalam merespons permasalahan tersebut, dan membangun jaringan kesastraan di tanah yang membentang di Asia Tenggara. Komunitas Sastra Timur Jawa menyajikan program diskusi, lokakarya, dan penerbitan karya sastra puisi dan cerpen, baik pada tingkat regional, nasional, dan
internasional/ASEAN sejak tahun 2015 hingga 2024. Tumbuh dan berkembang dalam konteks tersebut, untuk saling asah, asih, dan asuh dengan terus melakukan ikhtiar sampai menemukan titik idealnya, tanpa kehilangan konteksnya sebagai bagian sastra Jawa Timur dan Nusantara dalam skala yang lebih luas. Hal tersebut merupakan kerja sastra dan sekaligus kerja kebudayaan yang tidak ringan. Semua menuntut kesungguhan dan konsistensi, sekaligus terus menjaga elan vital dalam kreativitas maupun produktivitasnya. Dengan model ini, Temu Karya Serumpun 2025 tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi laboratorium produksi sastra bersama yang meninggalkan warisan abadi bagi kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, program Temu Karya Serumpun 2025 diajukan sebagai penguatan untuk terus eksis dan berkembang dalam gerak sastra dan kebudayaan sebuah bangsa.

