Esai dan Opini

Luka yang Bercerita: Menyusuri Labirin Trauma dalam Tajam Hujammu

oleh Siswanto

Ngilu, rapuh, dan trauma serupa jalan pulang yang melingkar dalam mata waktu yang nanar. Cara terbaik merawatnya adalah menepi dan menelan wajahnya yang memburam di balik tempias hujan. Sebab mencintai adalah gerimis tak pernah reda dan menunggu adalah kilatan petir yang mempertanyakan ujung rindu.

– Siswanto, Sastra Timur Jawa

Membaca sepilihan cerpen “Tajam Hujammu” karya Achmad Z. Dahlan seperti membuka jendela ruang-ruang traumatik. Jejak-jek “luka” tersebut menarik didaras dari tradisi Stoik, misalnya pandangan Lucius A. Seneca yang menempatkan teks‐teks bernuansa retoris dengan tujuan secara eksplisit terapeutik, yakni membentuk sikap batin pembacanya terhadap realitas yang kompleks. Karya sastra diposisikan sebagai ruang naratif yang memungkinkan pembaca menguji model‐model pengalaman secara intim, sehingga berfungsi seperti “terapi naratif” bagi subjek modern. Perspektif tersebut memandang kata-kata sebagai ruang pemulihan luka, hal tersebut menjadi pijakan yang tepat untuk memasuki dunia fiksi yang dibangun Achmad Z. Dahlan dalam cerpen-cerpennya. Buku tersebut bukan sekadar antologi; ia adalah kanal penyembuhan, sebuah upaya terapi literer di mana pengarang meramu kompleksitas hidup—terutama yang berakar pada tanah Madura—menjadi narasi-narasi yang getir, keras, namun seringkali penuh dengan kelembutan yang tersembunyi. Sebagai seorang pengembara rasa yang juga akademisi, Dahlan menulis bukan untuk pamer teknik, melainkan untuk menyalurkan ide, mencerahkan, dan membagikan pengalaman estetis tentang manusia yang terperangkap dalam tradisi, dendam, cinta, dan perantauan. Sepilihan cerpen tersebut adalah mozaik kehidupan, di mana setiap cerpen adalah jendela yang dibuka ke dalam jiwa-jiwa yang terluka namun terus mencari cara untuk bernapas.

Secara tematik, buku sepilihan cerpen “Tajam Hujammu” menyebar pada beberapa lapisan yang saling bertaut. Lapisan pertama dan paling menonjol adalah trauma dan kekerasan, terutama yang bersumber dari budaya carok (perang kehormatan) dan hierarki sosial di Madura. Cerpen pembuka, “Loka”, menjadi fondasi yang kuat: sebuah siklus balas dendam yang tak berujung, diwariskan dari kakek ke cucu, mempertanyakan makna sejati dari harga diri dan kehormatan. Lapisan kedua adalah kesepian dan kerinduan, seringkali dimediasi oleh elemen alam seperti hujan, senja, dan laut. Cerpen-cerpen seperti “Kereta yang Membawamu; Pergi”, “Dek,”, dan “Perempuan yang Mencintai Senja” mengolah rasa kehilangan dalam hubungan percintaan dengan gaya yang puitis dan melankolis. Lapisan ketiga adalah dislokasi dan pencarian identitas, baik akibat merantau–cerpen “Jimat”– maupun konflik dalam keluarga—cerpen ”Halaman Rumah”. Tokoh-tokoh Dahlan seringkali adalah subjek yang terombang-ambing di antara tuntutan tradisi yang keras dan hasrat personal untuk bebas atau dimengerti.

Dimensi tokoh dalam buku sepilihan cerpen tersebut dibangun dengan pendekatan yang intim dan psikologis. Dahlan tidak menggambarkan tokohnya sebagai pahlawan atau penjahat, melainkan sebagai manusia yang terluka, terbelah, dan bertindak berdasarkan logika emosional yang kompleks. Narasi seringkali menggunakan sudut pandang orang pertama atau ketiga terbatas yang mendalam, membawa pembaca menyelami pusaran pikiran dan perasaan tokoh. Ambillah tokoh “Cong” dalam cerpen “Loka”. Kita menyaksikan transformasinya dari anak yang trauma menjadi pemuda keras, lalu pada klimaksnya, upayanya untuk memutus rantai kekerasan—sebuah keputusan yang ironisnya justru mengantarnya pada tragedi. Kehidupan batin tokoh-tokoh seperti Djalwa dalam cerpen “Halaman Rumah” atau narator dalam cerpen “Tajam Hujammu” juga dirangkai dengan detail sensorik dan monolog interior yang kuat, sehingga narasi terasa padu dan hidup di benak pembaca. Mereka bukanlah tipikal, melainkan individu dengan beban sejarah yang spesifik, membuat pembaca tak hanya menyaksikan, tetapi turut merasakan konflik mereka.

Di sinilah teori filsafat Gilles Deleuze, khususnya konsep tentang “deteritorialisasi” dan “subjek nomaden”, memberikan lensa yang tajam untuk menginterpretasi substansi cerpen-cerpen Dahlan. Deleuze menolak subjek yang tetap dan stabil; baginya, subjek adalah proses menjadi (becoming), selalu dalam pergerakan melintasi dan melampaui batas-batas yang mengatur (teritorial) seperti adat, keluarga, atau identitas tetap. Dalam konteks cerpen “Tajam Hujammu”, tokoh-tokoh Dahlan adalah subjek nomaden yang berusaha melakukan deteritorialisasi—melarikan diri atau mengubah kodrat dari teritori yang menindas mereka. Cerpen “Loka” adalah pergulatan antara keinginan untuk deteritorialisasi dari siklus balas dendam (seperti yang coba dilakukan Cong dengan tidak membunuh Kerok) versus tarikan kuat re-teritorialisasi oleh adat dan kewajiban keluarga. Namun, usaha itu seringkali gagal atau berakhir tragis, menunjukkan betapa kuatnya “mesin-mesin sosial” (konsep Deleuze-Guattari) seperti tradisi carok dan kode kehormatan Madura dalam menangkap dan mengatur subjek.

Dalam cerpen “Halaman Rumah” dan “Jimat”, proses deteritorialisasi tampak pada tindakan merantau. Merantau bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi upaya menjadi-liyan, keluar dari teritori identitas lama yang penuh trauma. Namun, Deleuze juga mengingatkan bahwa selalu ada potensi re-teritorialisasi dalam ruang baru. Sirud dalam cerpen “Jimat” gagal total; ia justru mengekspor kekerasan dari teritori asal (budaya blater) ke dalam konflik di tanah rantau, dan akhirnya direteritorialisasi oleh kekuatan negara (polisi). Narator dalam cerpen “Kereta yang Membawamu; Pergi” adalah subjek nomaden dalam cinta, terus bergerak di antara stasiun-stasiun pertemuan dan perpisahan, mencoba memahami cinta sebagai proses menjadi yang tak pernah selesai, bukan sebagai wilayah kepemilikan yang tetap. Kekuatan cerpen-cerpen Dahlan terletak pada kemampuannya menampilkan pergulatan menjadi narasi dengan segala kegagalan dan kegetirannya, tanpa memberikan resolusi yang mudah.

Kekuatan utama buku antologi cerpen ini terletak pada otentisitas suara dan latar. Dahlan menulis dari dalam kebudayaan Madura, bukan sebagai pengamat dari luar. Ia berhasil membawa napas, diksi, metafora, dan konflik khas Madura ke dalam bahasa Indonesia yang puitis namun tetap terjangkau. Detail-detail kultural—seperti ritual merawat celurit, peribahasa Madura, dinamika hubungan blater—dihadirkan bukan sebagai folklor, tetapi sebagai darah daging cerita. Kelemahannya mungkin terletak pada nuansa emosional yang terkadang seragam dalam beberapa cerpen bertema cinta, di mana melankoli dan kesedihan mendominasi hingga berisiko mengurangi dinamika. Selain itu, dialog dalam cerpen seperti “Loka” yang sarat pepatah adat, meski autentik, bisa menjadi sedikit berat untuk dinikmati pembaca yang sama sekali asing dengan konteksnya.

Kekhasan buku sepilihan cerpen “Tajam Hujammu” adalah pada upayanya melakukan transliterasi sastra yang berani. Dahlan tidak menjadikan Madura sekadar latar eksotik, tetapi menjadikan kosmologi, konflik batin, dan paradoks dalam masyarakat Madura sebagai inti universal cerita. Ia berhasil mengangkat isu tradisi carok dan kekerasan turun-temurun dari sekadar berita kriminal menjadi tragedi manusiawi yang kompleks. Selain itu, pendekatannya yang menyatukan kekerasan maskulin (seperti dalam cerpen “Loka” dan “Jimat”) dengan kelembutan dan kerapuhan emosi (dalam cerpen-cerpen percintaan) menciptakan keseimbangan yang menarik. Ia menunjukkan bahwa dalam jiwa yang paling keras sekalipun, ada kerinduan akan kedamaian; dan dalam hati yang paling lunak, ada ketajaman hujan yang bisa melukai.

Pada akhirnya, buku sepilihan cerpen “Tajam Hujammu” adalah sebuah peta navigasi melalui luka. Seperti akan meneguhkan bahwa karya sastra adalah ruang untuk luka yang tak terlihat itu bercerita, berkumpul, dan mungkin, mulai sembuh. Achmad Z. Dahlan, dengan kesederhanaan bahasa yang penuh daya, telah membuka ruang itu. Kumpulan cerpen ini bukan hanya tentang ketajaman hujan yang menyayat, tetapi juga tentang kesunyian senja yang merawat, dan kemungkinan—walau samar—untuk bertumbuh menjadi baru di sela-sela bebatuan tradisi yang keras. Ia adalah pengingat bahwa dalam sastra, seperti dalam hidup, seringkali dari luka yang paling tajam, lahirlah cerita yang paling dalam gaungnya. Karya Achmad Z. Dahlan menyimpan banyak lapisan makna yang layak untuk terus digali dan dijadikan percakapan sastra. Menarik untuk dibaca. Selamat menikmati. Tabik.

Ujung Timur Jawa, 4 Januari 2026

Penulis

Siswanto. Penulis berdarah Sumenep-Madura berdomisili di Jember. Kepala suku Komunitas Sastra Timur Jawa dan Dosen di Universitas Jember.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button