Profil

PROFIL KOMUNITAS SASTRA TIMUR JAWA
Didirikan pada pertengahan tahun 2015 dan digagas oleh Akhmad Taufiq, Dwi Pranoto, dan Siswanto di Jember. Forum Sastra Timur Jawa menempatkan semua setara, memiliki tanggung jawab yang sama terhadap tumbuh kembangnya sastra di timur Jawa. Komunitas sastra ini memiliki koordinator di tiap kota/kabupaten, mulai dari Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi.
Sastra Timur Jawa dengan demikian, seperti yang dinyatakan oleh kurator, ia ingin memberikan penegasan iktikad untuk menangkap dan merefleksikan geliat kebudayaan yang terjadi di bagian timur pulau Jawa. Sebuah geliat kebudayaan yang penting dicatat, tidak sekadar sebagai mozaik sejarah; melainkan sebagai penanda sejarah kebudayaan itu sendiri. Di ujung timur Jawa telah terserak (baca:tersebar) suatu kreativitas dengan kekhasan khasanah kreatif sastranya, yang mampu menempuh jalan kebudayaannya sendiri. Sebuah jalan kebudayaan yang tidak dimaksudkan sebagai sebentuk resistensi; melainkan sebagai bentuk konstruksi identitas bagi khasanah kesastraan yang di(ter-) diamkan.
Buku pertama antologi puisi Timur Jawa lahir di tahun 2015. Lahirnya antologi puisi Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa telah menandai babak kebudayaan baru bagi perkembangan sastra di wilayah timur Jawa. Antologi puisi Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa, dalam konteks itu menjadi sebentuk daya ungkap dan „pengucapan‟ bagi repertoar sastra di bagian timur pulau Jawa. Repertoar sastra yang menyisakan kekayaan daya tutur puitik yang luar biasa, yang serasa tidak ada habis-habisnya jika terus digali dan dihidupkan. Oleh karena itu, Repertoar sastra seperti ini sangat disayangkan jika diabaikan dan dilalaikan begitu saja oleh subjek sejarah. Ini merupakan kekayaan dan anugerah kebudayaan dari Tuhan yang patut disyukuri oleh siapapun yang tinggal dan pernah menginjakkan kaki di dalamnya, di tanah timur Jawa tersebut.
Buku kedua bekerjasama dengan Balai Bahasa Jawa Timur dengan judul Timur Jawa: Balada Tanah Takat pada tahun 2017. Sedangkan buku antologi puisi ketiga lahir dengan judul Risalah Tubuh di Ladang Kemarau pada tahun 2019. Pada tahun 2023 ini, Forum Sastra Timur Jawa adalah rumah kebudayaan yang terbentang di ujung timur Pulau Jawa (Pasuruan, Proboliggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) yang secara berkala mengadakan temu karya sejak tahun 2015. Event Temu Karya 2023 hadir dengan mengusung tema TANAH TENGGARA: Spiritual, Identitas, dan Gerak Zaman. Tema tersebut disajikan setidaknya ingin menghadirkan, memotret, menarasikan manusia-manusia yang tersebar di tanah tenggara serumpun. Dengan harapan ada informasi estetik dari ekspresi batin para penulis yang mewujud dalam sajak-sajaknya. Buku ini akan diluncurkan dan dibedah di Desa Budaya Olean Kabupaten Situbondo pada tanggal 26-27 Desember 2023, bersama para penulis dari beberapa negara yang terhimpun dalam buku antologi puisi yang berjudul Tanah Tenggara.
Tim Temu Karya Serumpun 2023 telah menerima sebanyak 744 puisi dari 246 penulis Indonesia dan luar negeri (Malaysia, Brunei Darussalam, Pattani Thailand Selatan, Singapura, dan Timor Leste) yang kemudian dikurasi oleh perwakilan negara masing-masing yang akhirnya memutuskan sebanyak 334 puisi dinyatakan lolos kurasi dari 179 penulis. Mulanya, panitia merencanakan memilih 200 judul puisi yang akan dibukukan, namun setelah membaca dan menimbang banyaknya puisi yang masuk dengan kualitas baik, tim kurator memutuskan menambah jumlah puisi terpilih melebihi target awal.


